Pendapatan Hotel di Jakarta dan Bali Naik hingga 5,4 Persen Saat Dolar AS Menguat, Tarif Kamar Ikut Terkerek

Pendapatan hotel di Jakarta dan Bali tumbuh hingga 5,4 persen pada semester I 2026, didorong kenaikan tarif kamar rata-rata harian.
Penulis: Redaksi
Rabu, 19 Agustus 2026 | 11:30:02 WIB

DENPASAR — Industri perhotelan di Jakarta dan Bali mencatatkan kinerja positif pada semester I 2026 meski nilai tukar Rupiah tertekan di level Rp 17.899 per dolar AS. Alih-alih terpuruk, pendapatan hotel justru tumbuh didorong penyesuaian tarif kamar yang signifikan.

Vice President, Investment Sales, Hotels & Hospitality Group JLL Asia Pacific, Irina Chadsey, mengungkapkan pendapatan hotel di Jakarta tumbuh 5,4 persen year-on-year pada Januari-Juni 2026. Angka ini ditopang kenaikan tarif hotel rata-rata harian atau average daily rate (ADR) yang kuat, hampir mencapai 7 persen.

"ADR tumbuh hampir 7 persen didukung oleh faktor (pelemahan) mata uang dan sebagai dampaknya (pendapatan hotel) secara umum meningkat sekitar 5,4 persen pada periode tahun berjalan hingga bulan Juni," ucap Irina dalam acara JLL Indonesia Media Briefing Jakarta Properti Market Overview 2Q 2026, Selasa (18/8/2026).

Pariwisata Jakarta Menguat Berkat Infrastruktur

Irina menilai pariwisata Jakarta semakin kuat ke depannya karena investasi infrastruktur yang didukung pemerintah. Kedatangan wisatawan ke ibu kota tumbuh dari tahun ke tahun sejak 2026, dengan 1,2 juta pengunjung internasional atau naik 7 persen year-on-year.

Pertumbuhan ini utamanya didorong oleh investasi perusahaan. Sementara itu, wisatawan domestik masih mendominasi pasar pariwisata Jakarta dengan porsi 98 persen dari total pengunjung.

Pada kuartal II 2026, tidak ada hotel baru yang dibangun sehingga total pasokan kamar di Jakarta tercatat 59.642 unit. Namun, ke depannya akan ada tambahan sekitar 2.800 kamar baru dalam rentang 2026-2028.

Bali Alami Penurunan Turis Asing, Tarif Kamar Justru Naik 8,3 Persen

Kondisi berbeda terjadi di Bali. Jumlah wisatawan internasional yang datang ke Pulau Dewata justru mengalami penurunan 2,4 persen year-on-year pada Juni 2026. Selama semester awal, Bali hanya dikunjungi 3,2 juta wisatawan lokal.

Penurunan ini dipicu kenaikan harga energi dunia dan konflik di Timur Tengah yang membuat biaya perjalanan membengkak. Meski begitu, kinerja hotel di Bali tetap bertahan karena penurunan nilai tukar Rupiah justru menguntungkan pelaku usaha.

"Kinerja perdagangan tetap baik, nilai tukar yang lebih lemah memungkinkan hotel untuk menaikkan harga (sewa kamar)," tuturnya.

Hotel-hotel di Bali menaikkan tarif sekitar 8,3 persen untuk menyeimbangkan penurunan okupansi akibat berkurangnya pengunjung. Saat ini Bali memiliki sekitar 49.000 kamar dengan pasokan baru yang terbatas pada kuartal II 2026.

Reporter: Redaksi