Koster Resmi Buka Bulfest 2026 di Singaraja, Anugerahkan Penghargaan ke Tiga Maestro Tari Buleleng

Gubernur Bali Wayan Koster menyerahkan piagam penghargaan kepada tiga maestro tari Buleleng saat pembukaan Bulfest 2026 di Singaraja, Selasa (18/8/2026).
Penulis: Redaksi
Kamis, 20 Agustus 2026 | 10:43:32 WIB

BULELENG — Tiga maestro tari asal Buleleng menerima piagam penghargaan langsung dari Gubernur Bali Wayan Koster saat seremoni pembukaan Bulefst 2026 di Singaraja, Selasa (18/8/2026). Mereka adalah Ni Luh Sustiawati, Luh Herawati, dan Ni Luh Menek, yang dinilai konsisten memperkaya khazanah seni tari tradisional di kabupaten ujung barat Pulau Bali tersebut.

Penghargaan itu diberikan sebagai bentuk hormat negara atas kontribusi para seniman dalam menjaga warisan leluhur. Koster menyebut Bulfest bukan sekadar panggung hiburan, melainkan wadah strategis untuk memperkenalkan potensi lokal seperti kuliner, kerajinan, hingga produk UMKM ke khalayak yang lebih luas.

UMKM Jadi Penggerak Ekonomi Kerakyatan di Tengah Festival

"Saya mengapresiasi program Bupati yang telah menyelenggarakan Bulfest untuk memajukan dan memperkuat seni budaya Bali, khususnya karya seni dari Kabupaten Buleleng," ujar Koster dalam sambutannya.

Menurut dia, keberadaan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah memiliki peran vital dalam menggerakkan ekonomi kerakyatan. Melalui even tahunan ini, para perajin dan pelaku UMKM lokal mendapat ruang promosi langsung di hadapan wisatawan maupun warga sekitar.

Koster menambahkan, festival ini menjadi bukti bahwa seni dan ekonomi dapat berjalan beriringan. Ia berharap gelaran tersebut mampu memantik kreativitas generasi muda agar regenerasi seniman di Buleleng terus berlanjut.

Target Infrastruktur 2029: Denpasar-Buleleng Cuma 1,5 Jam

Di luar agenda seni, orang nomor satu di Bali itu turut memaparkan sejumlah proyek strategis yang menyentuh Buleleng. Salah satunya kelanjutan pembangunan shortcut titik 9–10 yang bakal diperpanjang hingga titik 12, plus pengembangan Pelabuhan Celukan Bawang dan sejumlah pelabuhan lain.

"Kalau semuanya sudah selesai pada 2029, dari Denpasar ke Buleleng nanti bisa satu setengah jam," katanya.

Proyek lain yang ia singgung adalah pengembangan kawasan ekonomi di Kecamatan Gerokgak serta pembangunan tahap kedua Turyapada Tower. Koster menargetkan seluruh agenda tersebut rampung sebelum masa jabatannya berakhir pada 2030.

"Kita harus menunjukkan komitmen kita sama-sama untuk memajukan Buleleng. Saya mohon guyub, bersatu menjaga Buleleng dan Bali agar tetap kondusif," tegasnya.

Makna "Uriping Rasa" Menurut Bupati Sutjidra

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menjelaskan, tema "Uriping Rasa" mengandung filosofi bahwa budaya akan bertahan selama rasa di hati masyarakat terus menyala. Ia mengajak seluruh elemen menjaga hormat kepada leluhur, cinta tanah kelahiran, hingga kepedulian terhadap sesama.

"Uriping Rasa mengajak kita menjaga rasa hormat kepada leluhur, cinta pada tanah kelahiran, kebanggaan identitas, kepedulian terhadap lingkungan dan sesama, serta tanggung jawab mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya," jelasnya.

Sutjidra menegaskan, perubahan zaman tidak lantas membuat tradisi ditinggalkan. Justru, tradisi harus mencari ruang baru agar tetap relevan dan diterima generasi masa kini.

Enam Hari Perayaan: Dari Tari Klasik hingga Nuansa Tempo Dulu

Selama enam hari, Bulfest 2026 menyuguhkan beragam kegiatan mulai dari pertunjukan seni, pameran kerajinan, kuliner, hingga inovasi UMKM. Nuansa Singaraja tempo dulu sengaja dihadirkan untuk memperkuat identitas dan karakter kota bekas ibu kota Bali itu.

"Marilah kita hidupkan rasa, hidupkan budaya, dan bersama membangun Buleleng yang semakin maju, berbudaya, dan berkarakter," pungkas Sutjidra.

Perhelatan ini diharapkan memberi dampak ganda: menjadi tontonan yang menghibur sekaligus tuntunan yang mendidik. Lewat Bulfest, para seniman mendapat tempat berkarya, UMKM berkembang, dan masyarakat semakin akrab dengan kekayaan budaya sendiri.

Reporter: Redaksi