BADUNG — Director and Executive Pastry Chef APCA Indonesia, Louis Tanuhadi, menyebut Bali punya ekosistem yang mendukung pengembangan pendidikan kuliner, mulai dari industri pariwisata hingga kekayaan bahan pangan lokal. Pembukaan kampus di Badung ini menjadi kampus kedua APCA di Indonesia setelah hadir sejak 2019.
Kelas perdana dimulai Oktober 2026 dengan satu kelas berkapasitas maksimal 12 siswa. Menurut Louis, antusiasme calon peserta yang mendaftar cukup tinggi, tidak hanya dari Bali tetapi juga dari Jakarta dan Surabaya.
Mengapa Bali Dipilih Jadi Basis Kampus Kedua APCA
Louis menilai industri perhotelan dan pariwisata Bali yang sudah matang menjadi lahan subur bagi lulusan sekolah kuliner. Suasana Bali juga disebut memberi pengalaman berbeda bagi siswa dari luar daerah maupun luar negeri.
"Bali memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan talenta kuliner bertaraf internasional," ujar Louis dalam acara Media Gathering di Gourmet Garage, Jalan Batas Kangin No. 18, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Jumat (25/9).
Ia menambahkan, banyak potensi bahan lokal yang bisa dikembangkan menjadi produk kuliner berkelas dunia. "Potensi Bali sangat baik, terutama untuk bisnis ini. Banyak potensi bahan lokal yang bisa dikembangkan," ungkapnya.
Garam Kusamba dan Gula Aren Jadi Andalan, Susu Masih Impor
Louis mengakui sejumlah bahan masih harus didatangkan dari luar negeri, salah satunya susu. Namun bahan lokal seperti garam Kusamba dan gula aren dinilai memiliki kualitas sangat baik dan berpeluang dikenalkan ke pasar internasional.
"Jadi APCA bukan hanya menjadi sekolah, tetapi juga menjadi mercusuar atau corong untuk memperkenalkan Bali," tegasnya.
Posisi APCA di Badung diharapkan menjadi jembatan antara talenta lokal, kekayaan pangan Bali, industri pariwisata, dan standar kuliner internasional dalam satu ekosistem pendidikan.
Kurikulum 90 Persen Praktik dan Sertifikasi City & Guilds London
Peserta didik APCA Bali akan mengikuti pendidikan selama sembilan bulan, dari pagi hingga sore hari. Sekitar 90 persen proses pembelajaran dilakukan melalui praktik langsung di dapur, sedangkan 10 persen lainnya berupa teori.
Kurikulum yang dipakai berstandar global dengan sertifikasi City & Guilds dari London. Program ini juga membuka peluang pengalaman internasional, termasuk kesempatan magang di sejumlah negara seperti Prancis dan Belgia.
APCA juga berencana mengundang chef-chef dunia untuk mengisi program pembelajaran. "Yang kita perlukan adalah leader yang mengarahkan mereka," kata Louis.
Alumni Bali Sudah Menembus Kompetisi Asia
Louis mencontohkan salah seorang peserta didiknya asal Bali yang meraih medali emas dan posisi kedua dalam kompetisi yang diikuti peserta dari sejumlah negara Asia. Ia menyebut capaian itu sebagai yang pertama bagi putri Bali yang naik panggung mengalahkan negara-negara Asia lain.
Sejumlah alumni APCA disebut telah bekerja di industri kuliner dengan kemampuan profesional dan penghasilan yang cukup besar. Banyak lulusan asal Bali kemudian bekerja di Jakarta.
APCA membuka kemungkinan menerima peserta internasional pada kelas perdana di Badung. Pendaftaran masih berjalan menjelang dimulainya kelas pada Oktober 2026.