FRONTIER-Bali dan WALHI Gelar Konser Hari Keadilan Ekologis di Denpasar, Serukan Moratorium Pariwisata
DENPASAR — Konser bertajuk "Dari Tapak Untuk Keadilan Antar Generasi, Selamatkan Alam Bali dan Lawan Proyek-Proyek Perusak Lingkungan" digelar di warung SixaSix, Denpasar, Minggu 20 September 2026. Kegiatan ini diinisiasi FRONTIER-Bali, Komunitas Anak Muda Public Enemy, dan WALHI Bali untuk memperingati Hari Keadilan Ekologis yang jatuh setiap 20 September.
Kepala Divisi Kaderisasi dan Pendidikan FRONTIER-Bali I Gusti Made Alit Permana Putra menyebut keadilan ekologis sebagai gagasan sekaligus kompas moral. Menurut dia, konsep itu menempatkan manusia, alam, dan generasi mendatang dalam satu kesetaraan.
"Keadilan ekologis bukan sekadar soal kelestarian, tapi soal hak hidup," kata Alit Permana Putra dalam pidatonya.
Alih Fungsi Lahan Capai 1.125 Hektare per Tahun
Direktur WALHI Bali A. A. Gede Surya Sentana memaparkan bahwa keadilan ekologis di Bali belum sepenuhnya tercapai. Tata kelola lingkungan dan pariwisata yang buruk, katanya, memicu overtourism yang berdampak pada masifnya alih fungsi lahan, krisis air, hingga peningkatan volume sampah.
Setiap tahun, sedikitnya 1.125 hektare lahan pertanian di Bali beralih fungsi. Mengutip penelitian Cole, Surya Sentana menyebut sebagian besar hotel di Bali masih bergantung pada air tanah.
Hotel berbintang di Bali membutuhkan air minimal 800 liter per kamar per hari, sedangkan hotel nonbintang sekitar 250 liter per kamar per hari. "Masalah ini adalah hal serius dan tantangan pulau Bali ke depan," ujarnya.
Sampah Pariwisata Terpusat di Empat Daerah
Surya Sentana juga mengutip Humas BRIN yang menemukan sektor pariwisata berkontribusi signifikan terhadap timbulan sampah di Bali. Sumbernya berasal dari wisatawan, aktivitas hotel, restoran, kafe, pengelolaan kawasan wisata, hingga perawatan lanskap.
Lebih dari separuh sampah di Bali berada di empat daerah utama: Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Keempat wilayah itu menjadi pusat kegiatan wisata dengan banyak hotel, restoran, tempat wisata, dan fasilitas pendukung.
"Jangan sampai pariwisata yang telah menghidupi Bali justru akan mengancam kehidupan masyarakat Bali ke depannya," tegas Surya Sentana.
Seruan Moratorium Pariwisata untuk Gubernur dan DPRD Bali
I Gusti Made Putra Triana dari Komunitas Public Enemy menyerukan Gubernur Bali dan DPRD Bali segera mengevaluasi serta melakukan moratorium pariwisata. Tujuannya menghentikan krisis lahan dan krisis air di Bali.
Pihaknya juga mendesak penghentian proyek-proyek yang dinilai merampas hak atas tanah, air, dan pesisir. Kepada kaum muda Bali, Putra Triana meminta mereka menggunakan pengetahuan untuk membela kehidupan masyarakat dan memperjuangkan hak atas lingkungan hidup.
Konser itu menggandeng sejumlah band: The Red Man, The Crass, Genk HC, dan High Quality V2. Pajang karya seniman turut memeriahkan acara, menampilkan Mang Ana, Anggi, Yan Camille, Dede Sudarmitha, Tu Angga, Adiva, Mdgegeartha, dan Mang Cenk.