KARANGASEM — Wagub Giri Prasta datang didampingi istrinya, Ny. Seniasih Giri Prasta. Ia turut ambil bagian langsung dalam prosesi mendem pedagingan bersama para pemedek.
Prosesi mendem pedagingan menjadi salah satu tahapan krusial dalam rangkaian penyucian bangunan suci atau parahyangan. Tahapan ini memuat nilai filosofis Tri Hita Karana, yakni keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan alam sekitar.
Asal Usul Pura Lempuyang dalam Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul
Dalam sambrama wacana-nya, Giri Prasta mengisahkan keberadaan Pura Lempuyang berakar dari legenda pemindahan puncak Gunung Mahameru dari India ke Pulau Jawa oleh para dewa. Pecahan gunung tersebut kemudian membentuk jajaran pegunungan di Jawa dan Bali, termasuk Gunung Lempuyang.
Menurutnya, Batara Hyang Pasupati mengutus tiga putra-putrinya untuk berstana di gunung-gunung utama di Bali. Tujuannya menjaga keseimbangan spiritual Pulau Dewata.
- Batara Hyang Putra Jaya berstana di Tohlangkir (Gunung Agung), dengan parahyangan utama di Pura Besakih.
- Batari Dewi Danuh berstana di Pura Ulun Danu Batur.
- Batara Hyang Gni Jaya berstana di Gunung Lempuyang.
Harapan Kerahayuan Jagat Bali
Giri Prasta berharap seluruh rangkaian karya di Pura Lempuyang Madya berjalan lancar dan memancarkan vibrasi positif bagi kerahayuan jagat Bali.
"Dumogi karya niki memargi antar, labda karya, sida sidaning don, nemu rahayu, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja," ujar Giri Prasta.
Ajakan Perkuat Menyama Braya
Wagub Bali itu mengajak umat Hindu di seluruh Bali terus memperkuat tali persaudaraan. Ia juga mendorong pelestarian adat istiadat, tradisi, seni budaya, dan kearifan lokal Bali.
Giri Prasta menekankan pelaksanaan upacara keagamaan mesti dijadikan momentum nyata untuk mempererat rasa persaudaraan dan gotong royong. Semangat menyama braya dan persatuan umat disebutnya sebagai benteng utama menjaga kelestarian adat, tradisi, serta kehidupan sosial krama Bali di tengah dinamika zaman.