Breaking

20 Drop Box Botol Plastik PET Tersebar di Gerai M Mart Bali, Target Kurangi 17 Persen Sampah Plastik

ZA
Sabtu, 08 Agustus 2026
20 Drop Box Botol Plastik PET Tersebar di Gerai M Mart Bali, Target Kurangi 17 Persen Sampah Plastik
Dua puluh drop box botol plastik PET beroperasi di gerai M Mart Bali untuk mendukung pengelolaan sampah plastik.

KUTA — Gerakan ekonomi sirkular untuk pengelolaan sampah plastik di Bali mendapat infrastruktur baru. Sebanyak 20 drop box botol plastik PET bekas pakai resmi beroperasi di gerai M Mart yang tersebar di sejumlah wilayah Pulau Dewata.

Fasilitas ini merupakan bagian dari program Recycle Me yang digagas Coca-Cola Europacific Partners Indonesia (CCEP Indonesia), Coca-Cola Indonesia, bersama PT Global Retailindo Pratama selaku pengelola jaringan M Mart dan Big M.

Mengapa Kehadiran Drop Box Ini Krusial bagi Bali?

Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) mencatat Bali menghasilkan sekitar 1,25 juta ton sampah per tahun atau setara 3.436 ton per hari. Dari jumlah tersebut, lebih dari 17 persen merupakan sampah plastik yang membutuhkan sistem pengelolaan lebih optimal.

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani, melalui Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3, Pengendalian dan Kerusakan Lingkungan, Ida Bagus Kade Wiranegara, menegaskan persoalan ini butuh keterlibatan banyak pihak.

“Kolaborasi seperti ini memberikan akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk mengembalikan kemasan pascakonsumsi agar dapat didaur ulang. Peran dunia usaha juga sangat penting dalam mendukung pengelolaan sampah dan pengembangan ekonomi sirkular di Bali,” ujarnya.

Alur Botol Plastik Setelah Masuk Drop Box

Botol plastik yang terkumpul dari 20 titik M Mart tidak berakhir di tempat pembuangan akhir. Material tersebut akan dikelola oleh Mahija Parahita Nusantara sebelum diproses lebih lanjut di fasilitas daur ulang Amandina Bumi Nusantara.

Fasilitas tersebut merupakan hasil kerja sama CCEP Indonesia dan Dynapack Asia yang memproduksi food-grade recycled PET (rPET). Material daur ulang ini nantinya menjadi bahan baku kemasan baru, menutup siklus plastik agar tidak menjadi limbah.

Public Affairs, Communications and Sustainability CCEP Indonesia, Dhedy Adi Nugroho, menyebut penguatan sistem pengumpulan adalah kunci membangun ekosistem ekonomi sirkular kemasan.

“Kemudahan akses masyarakat untuk mengembalikan botol plastik akan meningkatkan peluang material tersebut dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku kemasan baru,” katanya.

Ritel Jadi Garda Depan Kebiasaan Memilah Sampah

Managing Director M Mart, Ramesh Ram Khaerudin, menilai jaringan ritel memiliki peran strategis karena berhubungan langsung dengan masyarakat setiap hari. Kehadiran titik pengumpulan di gerai ritel diharapkan membangun kebiasaan memilah sampah sejak dari rumah.

Dengan rantai pengumpulan yang kian dekat dengan konsumen, sampah plastik tidak lagi dipandang sebagai limbah semata. Material itu menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi dan mendukung keberlanjutan lingkungan di Bali.

Sumber: artabalionline.com

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua